rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Senin, 16 November 2009

Sepatah Kata, Segudang Senjata!



Kata-kata, memang luar biasa. ia punya seribu wajah untuk menunjukkan diri dalam kegembiraan dan kesedihan, kemenangan dan kekalahan, kekuatan dan kelemahan, harapan dan kepasrahan, optimisme dan pesimisme, keteguhan dan kelelahan,
bahkan kehidupan dan kematian.

Begitulah kata-kata, sifatnya seperti pisau. Selalu punya dua sisi, kebaikan dan kejahatan. Maka berhati-hatilah atasnya, gunakan ia untuk menumbuhkan dirimu dan orang lain, karena kata-kata yang kesalahan arah, akan berubah menjadi darah. Perhatikanlah bagaimana kata “cicak dan buaya” memaksa jutaan mata, telinga, hati dan pikiran menjadi lelah.

Kata-katalah yang membentuk orang-orang besar yang memperjuangkan kebanaran. Menyulap seorang budak menjadi raja di dunia dan akhirat. Kata-kata juga yang membesarkan para penjahat gombal, yang selalu konsisten memperjuangkan kesalahan. Yang menjatuhkan sang kaisar menjadi seseorang yang kesasar.

Sekarang, marilah kita sedikit “mendaratkan” cara pandang kita. Lihatlah bagaimana kata-kata mengubah persahabatan menjadi suram, dan penuh dengan kebencian. Tapi perhatikan juga bagaimana kata-kata dapat mengikat persahabatan jadi sehidup semati, susah maupun senang, dunia juga akhirat.

Katalah, yang menjerumuskan seseorang pada jerat-jerat cinta, yang tampilannya rupawan tapi isinya mengerikan. Yang penampakannya berbunga-bunga, tapi jiwanya berduri-duri. Kemudian, kata juga yang membimbing seseorang menapaki jalan cinta para pejuang. Yang suci, yang abadi, yang hakiki.

Kemudian jika kata, disulam menjadi senjata, waspadalah. Karena ia bisa jadi sangat menyakitkan, atau bisa juga sangat membangkitkan.

Maka ketika kamu diberi kesempatan, untuk menyampaikan sepatah-duapatah kata, dalam setiap panggung kehidupan, pastikan kata-katamu adalah senjata terbaik. Senjata, untuk menghancurkan tembok-tembok pembatas kreativitas, meruntuhkan hambatan-hambatan belajar dan berkarya, membunuh setiap perasaan dan sikap pesimis, mengubah energi negatif menjadi positif, menghanguskan rasa rendah diri dan keterbelakangan, membongkar energi dan potensi yang tersembunyi.

Kemudian, dengan senjata itu pula, ledakkanlah kapasitas diri mereka, untuk membuat kehidupan jadi lebih baik.

Selasa, 10 November 2009

Dari paradigma, Sampai olah Vokal

Worli Sea FaceImage by Swami Stream via Flickr

menyenangkan sekali hidup ini. selain berbagai masalah yang kita hadapi, masih banyak hal yang bisa kita syukuri. Banyak hal sederhana yang membuat kita sadar, bahwa hidup sepenuhnya baik terhadap kita. Apalagi hal-hal besar, yang menumbuhkan kita, yang mencerahkan kita, dan membuat kita membalik paradigma hampir 180 derajat, tentang romantika kehidupan.

pagi ini, sepertinya saya mendapat semangat baru. beruntunglah fase dropnya motivasi berlangsung sebentar, dan Alhamdulillah itu semua sudah berlalu. Hari rabu adalah hari meeting rutinnya TRUSTCO, saya datang sekitar jam 10 pagi, dan tentunya dengan semangat baru, dan motivasi belajar tingkat tinggi.

Banyak keberkahan yang kita dapatkan ketika bertemu orang. apalagi di TRUSTCO, keberadaan para trainernya yang super-super terlalu sayang untuk dilewatkan, setiap gagasan, pengalaman, dan ilmunya. Tadi juga saya mendapatkan pengetahuan baru yang luar biasa. Pa Ahmad Yani, senior trainer TRUSTCO, "membongkar" dapur tentang public speaking seorang trainer. Pa Ahmad Yani, berbagi pengetahuan tentang pernapasan, olah vokal, intonasi, pitch control, sound character, termasuk ekspresi. LUAR BIASA...saya merasa mendapat jalan baru, untuk mengasah kapasitas sebagai seorang trainer.

Bahkan, kepikiran untuk mengikuti kursus Vokal khusus public speaking di EMS Bandung. Alhamdulillah, setelah searching2, dapet juga alamat EMS, mudah-mudahan nanti bisa dikontak, buat nanya berbagai informasi dasar tentang program kursusnya.

Sekarang saya semakin paham, bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. hidup adalah sebuah proses, dan tugas kita adalah menitinya setahap demi setahap, selangkah demi selangkah. untuk mencapai puncak, kita musti bertindak, melakukan langkah pertama, mengoptimalkan potensi, dan tentunya yang terpenting adalah konsisten dengan langkah-langkah kita.
Reblog this post [with Zemanta]

Selasa, 03 November 2009

Buaya itu terbunuh, Oleh seekor Cecak


Entah sejak tanggal berapa tepatnya, wacana pertarungan antara “cecak” melawan “buaya”, menjadi ide yang sangat memikat untuk diperbincangkan di ruang publik kita. Wacana itu, seperti bola salju yang digelindingkan dari puncak bukit, yang semakin lama semakin membesar, dan semakin liar. Tragisnya, entah karena salah perhitungan atau karena “daya tarik alam”, bola yang semakin besar itu kini dengan cepat dan pasti mengarah pada “rumah” sang pelempar.

Pertarungan cecak dan buaya memang sangat menarik, dan mendebarkan. Logika alam berkata bahwa siapa yang lebih kuat dialah yang akan menang. Tapi logika kebenaran berkata lain. Logika kebenaran menganggap siapa yang benar merekalah yang terhormat dan pantas untuk diberikan kehormatan, tak peduli apakah ia lebih kuat atau lebih lemah secara “fisik”. Nah, pertarungan ini, adalah pembauran sekaligus kekacauan dari dua logika tadi. Si cecak yang lemah, ternyata memiliki kecenderungan untuk benar, dan si buaya yang kuat cenderung sedang tidak benar dalam posisinya saat ini.

Cecak memang bukan lawannya buaya. Tapi pertarungan yang kecil melawan si besar ada riwayatnya, seperti Jalut yang dibuat K.O oleh Daud a.s, dengan satu lemparan. Artinya, selalu ada peluang dan kemungkinan, cecak menang melawan buaya, walaupun mungkin kesempatannya 1:100. Tapi, tentu saja hasilnya menggembirakan. Jika cecak menang melawan buaya, ini akan jadi legenda kepahlawanan. Lain halnya jika buaya menang menghabisi cecak, ini akan berakhir dengan kisah kepecundangan…..tentang buaya sadis yang tak tahu malu.

Sekarang, kemungkinan menangnya cecak, yang 1:100 tadi bisa jadi berbalik. Fakta bahwa hampir 500.000 (dan terus akan bertambah) penduduk kelurahan facebook memberikan dukungan terhadap cecak, merupakan sebuah amunisi yang bisa merubah cecak menjadi “bermental buaya”. Pun sebaliknya, berbagai tekanan dari pilar demokrasi yang keempat, kelima, dan seterusnya, menjadikan posisi buaya dalam keadaan mental “cecak”. Kalau seperti ini, besar kemungkinan, perlahan tapi pasti cecak akan menghabisi buaya. Bukan secara fisik, tapi secara karakter, kewibawaan, dan kepercayaan publik.

Tapi sejatinya, bukan tayangan itu yang ingin kita saksikan. Kita ingin cecak dan buaya bermitra, kita ingin cecak dan buaya menjadi dream team, dalam proyek besar pemangsaan “binatang-binatang” yang memang “layak” untuk dimangsa. Cecak dan buaya seharusnya berbagi tugas. Cecak naik pohon, melihat, mengamati, menganalisis, menyelidiki dan memergoki “mangsa-mangsa” culas yang bernama koruptor itu. Jika sudah dapat, maka berikutnya adalah tugas buaya untuk mengeksekusi sang mangsa. Karena memang tubuhnya lebih besar, dan taringnya lebih tajam, kemudian ekornya lebih kekar, sehingga buaya ini punya wewenang yuridis untuk menjerat dan mengeksekusi sang mangsa.

Walaupun memang, menjadi sebuah tim butuh pengorbanan. Dan diantara pengorbanan terbesar yang diperlukan untuk menjadi bagian dari tim adalah: Pengorbanan EGO. Sudah saatnya para penegak hukum diberikan kuliah khusus tentang emotional intelligence, atau spiritual intelligence…atau mungkin training khusus tentang team building....(hubungi saya pak…)J

Baiklah…,sepertinya kisahnya cukup sampai situ. Memang politik negeri ini penuh dengan analogi atau perumpamaan. Cicak dan buaya (masalah hukum yang menjadi sangat politis), politik gangsing, politik yoyo, dan seterusnya. Bahkan para pengamat kita cenderung menganalisis perilaku penguasa dengan simbolisasi pepatah jawa, pewayangan, dan seterusnya. Tapi itu menyegarkan, untuk tema politik yang memang berat. Setidaknya, kita sedikit terhibur dengan menggunakan simbol-simbol wakilan untuk menggambarkan realitas. Kemudian, kita juga jadi penasaran, bagaimana ya cerita berikutnya?

Rabu, 28 Oktober 2009

Pembukaan yang Memukau!!


satu hal yang sangat penting dan sering dilupakan dalam aktivitas public speaking adalah OPENING.

yups, pembukaan itu penting, dan akan menentukan kualitas keseluruhan presentasi kita. kita sudah sering mendengar "Terpesona, kepada pandangan pertama...". mungkin ini hanya lirik sebuah lagu, tapi dalam dunia public speaking hal ini berlaku, sangat berlaku.

kepercayaan audiense dibangun ketika kita mengucapkan kalimat pertama dalam presentasi. Jika kita gagal melalui ini, besar kemungkinan audiens tidak akan menyimak dengan penuh perhatian, atau biasanya mereka punya pilihan lain: tertidur.

nah, berikut adalah beberapa tips, bagaimana kita melakukan pembukaan yang efektif dan memikat perhatian audience. atau bahasa trainingnya dikenal dengan sebutan Ice Breaking..

1. Cerita : orang cenderung suka dengan cerita. jadilah story teller yang baik, dan sampaikanlah cerita dengan gaya yang unik dan menarik.

2. Statistik : hasil penelitian terbaru, segala yang berkaitan dengan angka yang berhubungan dengan presentasi kita, sangat bermanfaat untuk mencuri perhatian "otak rasional" audiense.

3. Humor : hal teratas yang diharapkan orang dari pembicaraan adalah tertawa. berikanlah humor dengan fleksibel dan dinamis. dan anda harus cerdas dalam hal ini. jangan sampai humor yang anda buat tidak membuat audiens tertawa, tapi menangis. palajarilah bagaimana para entertainer atau pelawak membuat orang tertawa, kemudian ikuti beberapa tekniknya. tapi ingat anda bukan pelawak, jadi jangan tiru keseluhan..

4. Kutipan : bisa kutipan kata-kata orang besar. atau tokoh-tokoh yang berkaitan dengan presentasi yang kita sampaikan.

5. Pertanyaan Retoris : ini bertujuan agar audiens terpacu untuk berpikir, dan merenung, hal-hal yang tak perlu dijawab.

6. masih banyak lagi, yang penting lakukanlah dengan kreatif!!

intinya, dari sekian banyak teknik pembukaan yang baik, yang terpenting adalah bagaimana kita mempersiapkannya. sukses dibangun latihan yang disiplin dan terus-menerus. konon, pembicara-pembicara besar memang benar-benar menyiapkan apa kata-kata pembuka mereka....

jadi, kita tidak harus mengalami...."aa"...."eee"..."aa"..."eee"...."mmm"...."apa ya?", atau "sebelumnya maaf....saya belum persiapan", ketika mengawali pembicaraan.

satu hal lagi, practice make perfect...
semangat terus, jadilah Great Public Speaker!!

“Pukul anjingnya, Maka kau MELESAT!!!”

Saya tidak bermaksud mengampanyekan kezhaliman terhadap binatang. Judul di atas hanyalah sebuah analogi, yang ingin menggambarkan betapa mengambil keputusan itu penting, bahwa keberanian itu berguna, kemudian kecepatan itu diperlukan, dan totalitas itu membahagiakan. Semuanya, adalah realitas, yang seringkali terbungkus dalam satu aktivitas: keterdesakan.

Seperti para prajurit Viking, yang membakar habis kapal-kapal mereka dalam sebuah ekpesdisi penaklukan. Tujuannya sederhana: supaya tidak ada lagi pikiran untuk kembali, selain memenangkan pertempuran. Supaya jalan yang terbuat dan pilihan yang terkuat terpolarisasi jadi satu, yaitu optimalisasi kekuatan. Karena untuk tetap hidup, hanya itu pilihan yang tersisa.

Seperti ikan-ikan Tuna, yang harus berlari, bergerak, dan bermanuver sepanjang perjalanan. Karena sang nelayan penangkapnya, menyertakan anak-anak hiu yang cukup bandel, dalam rombongan mereka. Ikan-ikan Tuna itu terus membuka mata, mereka juga terus waspada, karena mereka tahu, sedikit saja mereka tertidur, kemungkinan besar itulah tidur terakhirnya.

Jadi, jika kita ingin berlari lebih kencang, buatlah “anjingnya” marah, dan biarkan ia mengejar kita. Lalu setelah itu pilihlah untuk berlari, kecuali jika kita penasaran ingin tahu bagaimana rasanya digigit anjing, maka diamlah ditempat.

Artinya, hanya ada satu pilihan yang menumbuhkan, yaitu berlari. Dan lakukan saja, berlarilah dengan apa yang kita mampu untuk berlari. Dan percayalah, berlari dalam keterdesakan akan lebih cepat dari biasanya.

Begitu saja, filosofinya sederhana. Jika kita ingin melesat, maka ciptakanlah keterdesakan. Jika kita ingin menjadi hebat maka bangunlah kebutuhan. Karena karya-karya besar seringkali muncul dari keterdesakan. Dan karena keterdesakan adalah ibu dari setiap kreativitas.

Kemudian, agar kemenangan kita sempurna, ikatlah semua keterdesakan itu dengan KEYAKINAN.

Karena mereka yang punya keyakinan, selalu tahu bahwa ada “tangan yang lebih besar” yang akan menolong mereka dari keterdesakannya.

Satu hal lagi,

Buatlah keterdesakan, melesatlah, lalu….

ucapkan selamat tinggal pada logika

Selasa, 27 Oktober 2009

Sumpah PEMUDA!!

Hari ini tanggal 28 Oktober. matahari memang sedang bersinar cerah, seolah ikut mengusulkan bagaimana seharusnya pemuda bersemangat.

Dulu, menurut ceritas sejarah, sumpah pemuda lahir dalam kongres pemuda 2, yang acaranya digagas oleh Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia. Dalam salah satu kesempatan Pidatonya, M. Yamin memberikan wejangan tentang hubungan antara persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada 5 faktor yang bisa memperkuat persatuan indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kemauan.

dari situlah kemudian muncul gagasan agar pada penutupan kongres, dibacakan Sumpah Pemuda, yang naskahnya ditulis oleh M. Yamin, isi aslinya seperti ini:

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

bersambung..

Senin, 26 Oktober 2009

wajah baru

Alhamdulillah, setelah cari-cari dan gonta-ganti template, akhirnya dapet juga yang ideal. simpel, keren, dan memudahkan pembaca.

yah, memang perubahan itu harus selalu ada. dan harus selalu diperbaharui. karena perubahan juga bisa usang. wajah baru, mencerminkan semangat baru, cita-cita baru, energi baru, dan tentunya konten-konten baru.

semoga ruang ini bisa bermanfaat untuk siapapun yang membacanya..amien

Cari Blog Ini