rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)
Tampilkan postingan dengan label My Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Journey. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Juli 2010

lingkaran integritas

Perjalanan hidup adalah perjalanan untuk membangun integritas. Siapapun kita, sebagai apapun peran kita dalam kehidupan, untuk mencapai performa optimal dan meraih kebahagiaan batin kita harus memiliki integritas.

Integritas berarti kesatuan dan konsistensi dalam keyakinan, prinsip, perkataan, harapan, dan perbuatan. Seseorang yang berintegritas tidak akan menghianati prinsip hidupnya untuk kepentingan sesaat. Seseorang yang berintegritas akan selalu berusaha menyelaraskan nilai dan prinsip hidupnya dengan perkataan maupun tindakannya.

Menyatukan antara keyakinan, pikiran, ucapan, sikap dan tindakan bukanlah hal sederhana. Mereka yang berjuang untuk membuat ucapannya sejalan dengan tindakannya, sikapnya selaras dengan keyakinannya adalah orang-orang hebat. Dan mereka layak disebut pahlawan. Mengapa dikatakan hebat?, karena membangun integritas bukan pekerjaan mudah.

Mengatakan apa yang sudah kita lakukan mungkin berat, karena kejujuran memang butuh upaya. Tapi lebih berat lagi adalah melakukan apa yang sudah kita katakan. Melaksanakan janji-janji kita pada diri sendiri, keluarga, teman, atasan, atau karyawan.



Membangun integritas berarti membangun keteladanan. Sebuah kesadaran bahwa untuk mewujudkan perubahan yang baik, kita harus berpindah dari paradigma ‘mencari’ ke paradigma ‘menjadi’. Sebagian orang merasa sulit mencari orang baik karena lingkungan yang sudah tidak kondusif, tapi bukankah ada jalan terbaik yang bisa kita tempuh selain mencari, yaitu ‘menjadi’ orang baik.

Ini berlaku untuk banyak hal, kepemimpinan, persahabatan, bahkan pasangan hidup. Jika Anda merasa sulit ‘mencari’ pemimpin, sahabat, atau pasangan yang menurut Anda ideal, maka berhentilah mencari. Mulailah ‘menjadi’, menjadi pemimpin yang ideal, sahabat yang ideal, dan pasangan yang ideal. Jika Anda mewujudkannya mulai dari diri Anda, maka Anda akan menyaksikan betapa lingkungan ideal yang Anda cari dulu justru semakin mendekat kepada Anda.

Memulai dari diri, itulah tugas awal integritas. Berikutnya, kuatlah dalam menjaga integritas Anda. Berusahalah berkata benar, dan menepati apa yang kita katakan. Kepercayaan orang lain adalah investasi yang sangat berharga, dan integritas adalah tiang penyangga dari itu semua. Kita tidak akan pernah berkembang kalau kita tidak dipercaya. Dan kita tidak akan pernah dipercaya kalau kita tidak menunjukan bahwa kita layak untuk dipercaya.

Senin, 21 Juni 2010

Keep on Moving!!

Hari ini saya update status di facebook, dengan kalimat ini: "lebih baik minim impian tapi kaya tindakan, daripada kaya impian tapi minim tindakan. dan tentu, yang lebih baik adalah kaya impian yang diiringi dengan kaya tindakan, selamat berjuang!!"

kalimat ini muncul begitu saja di dalam kepala saya, ketika saya sedang berhadapan dengan layar laptop, mengisi laporan evaluasi training di salah satu institusi pemerintah yang dilakukan oleh TRUSTCO. Mungkin kalimat ini muncul dari perenungan sederhana tentang perjalanan hidup. Kita selalu dituntut dengan pertanyaan pertanyaan, "sudah lulus belum?", "kerja dimana?", "kapan nikah?", "udah punya anak berapa?", dan seterusnya, dan seterusnya.

pertanyaan itu akan terus muncul, sebagai desakan sosial agar kita tidak malas. Dan terus terpacu untuk berkarya. Walaupun memang, pada banyak kejadian desakan-desakan itu malah membuat kita jadi tertekan, alias merasa tidak nyaman. Sedang mengerjakan apa kita, mau kemana kita, dan apa rencana hidup kita berikutnya, adalah salah satu hal privasi yang sebetulnya tidak wajib diketahui oleh semua orang diluar diri kita. Kecuali jika kita memang ingin memberitahu mereka.

Titik permasalahannya adalah bagaimana kita percaya diri dan yakin dengan konsep diri kita. termasuk apa yang kita lakukan. Sepanjang kita mencintai apa yang kita kerjakan, dan menikmatinya sampai taraf yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, dan kita yakin bahwa yang dilakukan atau dikerjakan itu bernilai kebaikan, maka jadilah tidak perhatian terhadap apa yang ditanyakan atau dikatakan orang. Biar kita fokus, konsentrasi, dan total dengan apa yang kita kerjakan.

Yang penting kita terus berkarya, terus bekerja, terus bertindak, dan melakukan sesuatu. Entah perencanaan hidup kita sudah detail atau masih general, yang penting kita bergerak. Kebanyakan impian tapi tak pernah mulai, tidak baik untuk kesehatan mental. Lebih baik sederhanakan impian itu, dan jadilah royal dalam tindakan. Memulai sesuatu hari ini, saat ini, sekarang juga. Sampai kita bertemu dengan sesuatu yang harus kita temukan, yaitu impian kita.

ia harus dijemput kawan...
ia harus disambut...

ia tak mau hanya dipikirkan atau diangankan...

...see you at the top!

Selasa, 26 Januari 2010

Pelajaran yang paling Berharga.

Kehidupan selalu menarik. Setiap waktunya selalu memberikan kita ruang dan kesempatan baru untuk belajar, untuk merangkai makna-makna, dan mengkonstruksi ulang pemikiran kita tentang semua hal yang kita hadapi. Seperti persahabatan, ada yang datang ada yang pergi. Ada yang sebentar ada yang lama. Ada yang langgeng dan ada yang retak, atau pecah di tengah jalan.

Atau juga hubungan guru dan murid. Selalu ada awal dan akhir. Selalu ada saat dimana puncak kekaguman dan penghargaan kita terhadap sang guru justru merupakan waktu yang paling tepat untuk berpisah. Karena pada saat itulah, kita dihadapkan pada petualangan baru, untuk belajar hal-hal baru dari sang guru yang baru. Mungkin ini tidak berlebihan. Karena sang guru pun berpesan “kebahagiaan seorang guru, adalah ketika melihat murid-muridnya menjadi jauh lebih baik dari dirinya”. Bagi saya ini nasihat yang luar biasa yang mencerminkan dua hal, kerendahatian seorang guru di satu sisi, dan kebesaran jiwa dan cita-citanya di sisi lain. Subhanallah..semoga Allah memberikan pahala yang tak pernah putus untuk para guru, murabbi, syaikh, dan naqib.

Tak berlebihan pula, jika kita kemudian memberikan penghargaan yang setulus-tulusnya untuk para guru yang telah membimbing kita. Yang tak pernah menepuk dada karena berkembangnya kita sebagai seorang murid, dan tak pernah menampar karena kita gagal. Satu nasihat yang selalu terngiang, tentang bagaimana kita bisa menikmati keberhasilan dan kegagalan, adalah ungkapannya yang menyejukkan, “sukses itu”, katanya, “adalah bisa mendapat PELAJARAN dari setiap PROSES yang kita jalani”. Jujur, itu nasihat terindah bagi setiap orang yang berjuang menapaki jalan kehidupan….terlebih, bagi mereka yang sering terjatuh dan gagal. Yang penting ada PELAJARAN yang diambil, dan tidak terjatuh di lubang yang sama.

Memang begitulah hidup, selalu bergerak, selalu dinamis. Walaupun banyak orang yang bilang, bahwa seringkali sejarah itu berulang. Tak apalah, toh saya percaya dengan dua asumsi ini. Bahwa kita terus berubah dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi, dari tantangan ke tantangan. Tetapi dalam perjalanan itu, kita harus sadar….bahwa kita sedang mengulang sejarah.

Untuk para guru, yang datang dan pergi, memenuhi panggilan peradaban.

Semoga sejarah kembali mempertemukan kita….amiin.

Senin, 21 Desember 2009

Amazing!!


hari ini sungguh luar biasa. Saya mendapatkan banyak pembelajaran hidup, yang tak ternilai...Pertama dari Pa H.Ade Kastam, salah satu senior trainer trustco. saya diajari tentang games yang dahsyat tentang organisasi, yang pure penemuan pa Ade. Gamesnya luar biasa, hanya berbahan kertas kecil, dan tusuk gigi, tapi poinnya luar biasa, tentang organisasi dan sistem. Nah, yang lebih luar biasa lagi, saat pa Ade bercerita bagaimana beliau menemukan games tersebut.

Suatu ketika, beliau diminta mengisi training di salah satu institusi, tentang team work. ketika hendak berangkat, anaknya yang dirumah enggan ditinggal, dan minta diajari membuat tugas origaminya...dan disitulah proses pembelajaran bermula, ketika mengajarkan origami, pa Ade mendapatkan hikmah dan pelajaran luar biasa, dan beliau menggunakan itu sebagai bahan games dalam pelatihannya...dahsyat. Ternyata dari seorang anak kecil kita belajar...dan itu didapatkan dengan terlebih dahulu bersabar, dengan mengorbankan waktu kita.

Pelajaran kedua hari ini, masih dari seorang anak-anak. Namanya Abdurrahman Faiz, pagi ini saya mengunjungi blognya untuk mencari kata2nya yang terkait dengan "ibu". dan ketika saya lihat isinya, Subhanallah, luar biasa...Faiz, seorang anak, yang punya pikiran besar, hati yang tajam, dan bakat yang brilian. Tulisan-tulisannya sangat menusuk dan menggetarkan hati. Dia memang pelukis kata-kata sejati. Untuk usianya, Faiz adalah seorang jenius, dengan kecerdasan linguistiknya....Semoga Allah, kelak menjadikan dia mujahid peradaban...yang menjadi cahaya untuk dunia. amiin

Minggu, 29 November 2009

if there is a will, there is a way

Selalu ada harga yang harus dibayar untuk menjadi yang terbaik. Itulah fakta yang semakin saya sadari belakangan ini.

Di saat yang sama di pikiran saya berkelebatan ide-ide tentang bagaimana mewujudkan impian saya. Seolah menjawab kegelisahan saya ini, Allah menakdirkan saya untuk mendengar baik-baik dua nasihat dari dua pengalaman berbeda yang saya lalui. Pertama, nasihat dari bapak Ustadz. Kemarin lusa. Bertempat di rm. Ampera jatinangor, di sela-sela acara buka bersama, bola liar obrolan meluncur ke tema pernikahan. Ada kata-katanya yang sangat saya ingat, dan jadi masukan luar biasa untuk saya, “untuk menikah itu”, katanya, “diperlukan 10%keberanian, dan 90% nekat”…..”tapi, semuanya (keberanian+nekat) itu tetap dibingkai oleh keimanan”.

Jujur ini bukan nasihat baru bagi saya, tapi saya harus mengakui sepenuhnya bahwa nasihat ini punya “nyawa” baru, ketika dibungkus oleh konteks kekinian. Alhamdulillah, saya mendapat semangat baru, bahwa memang segala sesuatu butuh keberanian, dan terkadang kenekatan untuk memulai. Saya juga jadi teringat, dulu ketika job training di DCT saya sempat bertanya sama pak Aji, salah satu trainer DCT“. “pa, apa rahasianya bisa jadi trainer”, kata saya. “Nekat Van…”, jawab pak Aji, singkat, dan hanya itu jawabannya. Saya yakin itu adalah satu kata yang mewakili berjuta pengalaman..hmm

Nasihat kedua, adalah kata-kata yang meluncur dari entrepreneur muda terkenal yang memang sedang naik daun. Namanya Handi Setiono, yang populer lewat kebab turki baba rafinya. Terakhir, ia baru mendapat penghargaan spirit entrepreneur of the year dari ernst and young. Di acara metro pagi, Handi dan istrinya diwawancara seputar kesuksesannya memulai usaha dengan modal 4 juta, hingga saat ini sukses dengan mencapai 500 outlet di seluruh indonesia. Ketika ditanya apa rahasia suksesnya, dan apa pesannya untuk para calon entrepreneur muda indonesia, Handi berpesan, “untuk anda para entrepreneur muda, kalo kita sudah terlalu banyak ide dalam kepala….mulai saja bisnisnya, biar kita merasakan prosesnya, jatuh bangunnya”.

Ya, itulah masalah kebanyakan kita, terlalu banyak berpikir, dan miskin dalam mengambil tindakan. Saya jadi teringat tentang kisah tiga ekor katak yang memutuskan untuk melompat. Hmmm. Ada satu lagi pelajaran hidup yang terlampau manis untuk dilewatkan, sebuah fakta bahwa dalam mencapai kesuksesan kita harus memulai, kita harus bertindak, dan seringkali tindakan itu mengandung resiko besar. Tapi memang begitulah hidup, tak akan ada hasil tanpa resiko, dan ukuran resiko akan berbanding lurus dengna hasil yang didapatkan. Oleh karenanya, 90% kita harus nekat….dalam bungkus keimanan tentunya.

So, keep movin…begitu pesan salah seorang teman di facebook.

Oiya, ada satu inspirasi yang terlewatkan. Saya mendapatkannya hari ini, dari sebuah program trans7, She Can. Dan sepertinya ini akan jadi program favorit saya. Kisah nyata yang diangkat adalah tentang seorang TKW, lulusan sma yang telah sukses menjadi penulis buku best seller. Cerita bermula ketika sang TKW melihat iklan workshop kepenulisan, dan ia memutuskan untuk mengikutinya. Kegemaran menulispun timbul dan ia memutuskan untuk mengikuti milis para penulis.

Disana ia belajar banyak. Tentang bagaimana membuat tulisan yang menarik. Akhirnya, tibalah tawaran untuk membukukan tulisan-tulisannya. Judul bukunya hebat, “Anda Luar Biasa!!”. Pasca penerbitan bukunya, sang TKW banyak menerima panggilan, untuk memberikan motivasi…dan kini ia adalah seorang motivator. Yang membongkar tembok-tembok ketidakmungkinan, dan membuktikan kepada dunia, bahwa if there is a will, there is a way…

Reblog this post [with Zemanta]

Selasa, 10 November 2009

Dari paradigma, Sampai olah Vokal

Worli Sea FaceImage by Swami Stream via Flickr

menyenangkan sekali hidup ini. selain berbagai masalah yang kita hadapi, masih banyak hal yang bisa kita syukuri. Banyak hal sederhana yang membuat kita sadar, bahwa hidup sepenuhnya baik terhadap kita. Apalagi hal-hal besar, yang menumbuhkan kita, yang mencerahkan kita, dan membuat kita membalik paradigma hampir 180 derajat, tentang romantika kehidupan.

pagi ini, sepertinya saya mendapat semangat baru. beruntunglah fase dropnya motivasi berlangsung sebentar, dan Alhamdulillah itu semua sudah berlalu. Hari rabu adalah hari meeting rutinnya TRUSTCO, saya datang sekitar jam 10 pagi, dan tentunya dengan semangat baru, dan motivasi belajar tingkat tinggi.

Banyak keberkahan yang kita dapatkan ketika bertemu orang. apalagi di TRUSTCO, keberadaan para trainernya yang super-super terlalu sayang untuk dilewatkan, setiap gagasan, pengalaman, dan ilmunya. Tadi juga saya mendapatkan pengetahuan baru yang luar biasa. Pa Ahmad Yani, senior trainer TRUSTCO, "membongkar" dapur tentang public speaking seorang trainer. Pa Ahmad Yani, berbagi pengetahuan tentang pernapasan, olah vokal, intonasi, pitch control, sound character, termasuk ekspresi. LUAR BIASA...saya merasa mendapat jalan baru, untuk mengasah kapasitas sebagai seorang trainer.

Bahkan, kepikiran untuk mengikuti kursus Vokal khusus public speaking di EMS Bandung. Alhamdulillah, setelah searching2, dapet juga alamat EMS, mudah-mudahan nanti bisa dikontak, buat nanya berbagai informasi dasar tentang program kursusnya.

Sekarang saya semakin paham, bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. hidup adalah sebuah proses, dan tugas kita adalah menitinya setahap demi setahap, selangkah demi selangkah. untuk mencapai puncak, kita musti bertindak, melakukan langkah pertama, mengoptimalkan potensi, dan tentunya yang terpenting adalah konsisten dengan langkah-langkah kita.
Reblog this post [with Zemanta]

Rabu, 19 Agustus 2009

Catatan 18 Agustus


Rencananya pagi ini saya ke kampus dipati ukur, sekitar jam 9.30 atau jam 10 pagi. Hari ini rekan-rekan saya dari fikom diwisuda. Sayapun berangkat sekitar jam 10 lebih, dan ternyata ketika sampai di graha sanusi, pelataran parkir terlihat begitu sepi dari orang-orang, di depan pintu gerbang graha yang seharusnya penuh dengan wisudawan yang keluar dan para pendampingnya malah sepi sama sekali,, hanya terlihat beberapa orang saja.

Saya baru tahu kalo saya terlambat. Saya hanya menemukan dua orang teman, dan mirisnya yang satu menjawab “sudah pada bubar ”, ketika ditanya dimana tempat kumpul anak-anak fikom.

Yah, niat baik saya harus terparkir di dalam hati, karena mayoritas teman-teman sudah pada pulang dengan keluarganya masing-masing. Saya terpaksa puas dengan menyisakan ucapan syukur, selamat, dan bisikan doa yang saya sertakan untuk semua rekan yang “baru memasuki universitas kehidupan”, selamat berjuang kawan, semoga sukses!!.

Sayapun memanfaatkan waktu dengan duduk di pendopo mesjid dan melakukan beberapa obrolan kecil dengan dua orang teman saya yang lain yang kebetulan saya temui. Termasuk didalamnya, obrolan tentang masa depan.

Hari ini saya masih merasa kosong. Entah kenapa, belakangan ini saya seolah enggan melangkahkan kaki, terlebih melakuan aktivitas. Ternyata, saya merasakan kemalasan itu punya efek domino, satu kemalasan kecil akan memacu atau menimbulkan kemalasan-kemalasan berikutnya. Entah kenapa, saya seolah kehilangan energi hidup, rapuh seperti ranting kering yang terpelanting ditampar angin. Apakah kita harus melakukan sesuatu yang besar untuk menjadi bermakna?. Dan memang saya lebih suka menakar setiap kegelisahan dengan pandangan yang sedikit humanistik. Karena saya tidak suka jika harus menjabarkan apa yang saya alami dengan psikoanalisis misalnya, atau behaviorisme. Bagi saya keduanya sama saja, membosankan….dan tidak memuaskan, walaupun kadang saya terpaksa harus mengambil manfaat dari keduanya.

Jadi kenapa saya merasa malas?, dan kenapa saya kehilangan energi hidup?, seperti mobil yang tergopoh-gopoh karena kehabisan bensin. Jawaban yang saya sukai, adalah mungkin karena saya kehilangan makna atas apa yang saya lakukan. Karena seperti kata Frankl, manusia itu pencari makna. Jadi, kalo boleh menjawab sendiri permasalahan saya, maka yang harus saya lakukan adalah menemukan makna-makna baru, atas setiap aktivitas saya. Jika PC saja harus di refresh atau bahkan di defrag, maka begitupun pemaknaan kita. Setidaknya, begitulah teori saya.

Kemudian, solusi berikutnya adalah lewat afirmasi, pengulangan kata-kata positif. Sepertinya saat ini saya harus meledakkan kata-kata positif agar kemalasan saya turut meledak dan hilang ke segala penjuru jiwa. Berikut adalah kata-kata yang saya anggap positif, untuk diri saya sendiri:

“Para pahlawan punya visi, dan mereka punya penglihatan yang tajam akan masa depan. Maka jadilah pahlawan dengan memiliki ketajaman visi. Jadilah orang besar dengan bahan bakar keberanian. Jadilah istimewa karena memandang kehidupan sebagai sesuatu yang terlalu cantik untuk disia-siakan. Isilah waktu dengan kecepatan berpikir dan ketepatan bertindak, karena Dunia ini digenggam oleh mereka yang memiliki dinamika dan fleksibilitas diri yang super tinggi. Bergeraklah maju, berani, bersemangat, termotivasi, optimis dan kuat. Jadilah bintang, dan terangilah sebanyak-banyaknya orang. Taklukan segala kekalahan jiwa dan pikiran, gapailah cita dan kemenangan….karena hidup benar-benar menyerahkan dirinya HANYA untuk orang-orang yang bekerja!!”

Salam Dahsyat.

Sekian dan terima kasih.

Senin, 17 Agustus 2009

masih tentang kemerdekaan

{{legend|#ff0000|1930 to 1939}} {{legend|#ff54...Image via Wikipedia

Ternyata diam itu tidak membuat hidup jadi nyaman. Saya sendiri merasakan, bahwa kehidupan tanpa aktivitas ternyata membuat saya merasa sangat bosan, semangat dan motivasi terus melorot, bahkan dirasa-rasa kesehatanpun ikut drop. Beberapa hari kebelakang sakit mulai sembuh, ga ada lagi demam atau flu, yang sisa hanya sakit tenggorokan, batuk dan penyakit langganan saya:sariawan. Sekarang, batuk malah tambah parah, tenggorokan terasa sangat gatel, seperti ada semut yang berlarian di dalamnya, berdahak pula. Kadang-kadang rasanya jadi mual, kayak orang hamil (walaupun saya ga tau gimana rasanya jadi orang hamil). Yah, begitulah hipotesis saya, semakin banyak diam, kesehatan semakin turun.

Sekarang 17 agustus malem, tadi di TV ramai sekali dibahas tentang berbagai macam aktivitas rakyat indonesia dalam merayakan hari kemerdekaannya. Ada yang mengibarkan bendera di dalam laut, gua, dan juga di atas gunung. Perlombaannya juga tak kalah unik, ada istri-istri TNI yang maen bola terong, ada bule-bule turis surabaya yang ikut maen jeruk dangdut, dan ada juga panjat pinang di bekasi yang puncak tiangnya dipasangi foto nurdin m top, mungkin supaya nambah semarak.

Sedangkan di sekitar rumah saya, sepi sekali. Walaupun tadi sore sekelompok ibu-ibu berinisiatif untuk mengadakan lomba kecil-kecilan, dari mulai balap kerupuk sampai balap bakiak, seru sekaligus malu. Kenapa malu?, karena tak satupun pemuda terlibat sebagai panitia atau yang berinisiatif untuk mengadakan dan memimpin acara lomba. Apakah ini adalah simbol “kematian” semangat dan kreativitas pemuda?, setidaknya di RW tempat saya bernaung, sedangkan saya sendiri adalah pemuda?. Karena itulah saya malu. Salut buat ibu-ibu.MERDEKA!!!

Baru saja saya merenungkan apa arti kemerdekaan?. Dan bagi saya, tentunya kemerdekaan tak sesederhana terlepas dari kolonialisme, atau dirobeknya kain berwarna biru pada bendera Penjajah yang dikibarkan di tanah kita. Bagi saya, kemerdekaan itu konsep yang teramat luas, seluas wilayah nusantara dari sabang sampai merauke. Dan karena luas, saya jadi malas untuk berpendapat, tapi setidaknya saya masih bisa usul. Menurut saya, bagusnya konsep kemerdekaan dibuat kuantitatifnya. Semisal teori kemiskinan yang diungkap oleh seorang profesor, bahwa konsep miskin bisa dihitung dari berapa jumlah kalori yang dikonsumsi oleh seseorang.

Begitupun kemerdekaan, ia bisa jadi ukuran tentang berapa kali (juga termasuk angka kandungan gizi) seseorang makan sehari. Atau berapa ukuran iq rata-rata penduduk, mungkin juga luas rumah, pendapatan (gaji), termasuk tingkat kesehatan. Konsekuensinya, kalo masih ada orang sakit dan ga bisa berobat karena biaya rumah sakit mahal atau administrasinya terlalu sulit untuk diurusi oleh si sakit yang lulusan sd, maka kita belum merdeka kawan.

Bagi saya, kemerdekaan adalah sebuah proses, sebuah perjuangan tanpa akhir. Ia tak berujung pada lomba kerupuk atau panjat pinang, ia berakhir ketika memang semua ukuran-ukuran kemerdekaan yang dibuat terpenuhi….dan itu masih panjang.


Reblog this post [with Zemanta]

Minggu, 16 Agustus 2009

Merdeka!!!


hari ini tanggal 17 agustus. konon, menurut kebiasaan bangsa indonesia, hari ini diperingati sebagai hari kemerdekaan. sudah 64 tahun Republik ini punya usia, kalo dalam ukuran manusia sih, memang udah "aki-aki". tapi ini adalah umur negara, bukan umur seorang manusia. kalo manusia nambah tua bisa jadi kemampuannya berkurang, kulitnya mulai keriput, daya ingatnya mulai menurun, semangatnya mulai redup, dst..dst.

Tapi lain halnya dengan negara. semakin tua seharusnya semakin dewasa. semakin tua seharusnya semakin semangat, semankin cerdas, semakin berpikir maju, dan semakin sejahtera.

dan satu hal lagi tentang kemerdekaan. Ia ada di "dalam" bukan di "luar". karena bisa jadi, orang yang sebenernya bebas dan tidak terjajah secara fisik, tapi mentalnya "mati", terpenjara oleh kemalasan, pesimisme, dan jiwa kekalahan. tapi ada juga, mereka yang secara fisik ditindas, tapi mental dan jiwa mereka "merdeka", seperti 300 pasukan Yunani dalam film "300", yang menolak untuk tunduk meski harus berhadapan dengan monster-monster yang haus darah.

mari kita merdekaan sikap dan mental bangsa!!
Karena itu jauh lebih penting, daripada sekedar balap karung atau tangkap belut.
MERDEKA!!

Kamis, 13 Agustus 2009

Kamis, 13 Agustus

Senja sepi di WiduriImage by Deede Kharisma via Flickr

Sore ini kota Bandung sedikit sepi. aneh, padahal seperti biasa kendaraan lalu lalang dan saling menerjang. Orang-orang berjalan, bepergian dan terlihat sekali mereka adalah orang-orang sibuk. Mungkin bukan Bandung yang sepi, melainkan hati saya yang lagi sepi....alah

Banyak cara untuk mengisi saat-saat sepi. sebagian lebih suka berpikir dan merenung, sebagian lagi memilih untuk melahap lembar demi lembar cerita fiksi dalam novel yang digemarinya, dan sebagian mungkin akan mejatuhkan pilihan pada gadget-gadget pengisi waktu sepi seperti main games, online, atau.....tidur (apakah ini gadget??..entahlah)

Bagaimana dengan saya?, nah salah satunya saya membakar saat-saat sepi dengan menulis. Bagaimanapun ternyata menulis adalah aktivitas yang menyenangkan, apalagi kalau kita sudah mulai merasakan bahwa jari-jari kita seolah mengalir begitu saja mengikuti setiap kata hati dan lompatan pikiran dalam benak kita. maka kemudian, lahirlah sebuah tulisan. terserah apakah pada akhirnya setelah kita baca tulisan itu "sangat memalukan", atau bahasa kacaunya "nggak banget!!", yang penting saya sudah menulis, mengalirkan ide demi ide, gagasan demi gagasan, dan.....keresahan demi keresahan.

tentang bagaimana menulis dapat sedikitnya mengusir saat-saat sepi, saya teringat kisah seorang penulis besar Karl May, konon tulisan-tulisan briliannya dihasilkan dari dunia imajinasinya yang sangat luar biasa. Karl May setidaknya punya teman setia, yaitu imajinasinya. Yang bisa membawanya kemanapun ia mau, dengan sebuah "bimbingan" yang mendetail tentang peristiwa, dan memunculkan "karakter-karakter" yang kuat tentang para tokoh fantasinya.




Reblog this post [with Zemanta]

Cari Blog Ini