Kehidupan selalu menarik. Setiap waktunya selalu memberikan kita ruang dan kesempatan baru untuk belajar, untuk merangkai makna-makna, dan mengkonstruksi ulang pemikiran kita tentang semua hal yang kita hadapi. Seperti persahabatan, ada yang datang ada yang pergi. Ada yang sebentar ada yang lama. Ada yang langgeng dan ada yang retak, atau pecah di tengah jalan.
Atau juga hubungan guru dan murid. Selalu ada awal dan akhir. Selalu ada saat dimana puncak kekaguman dan penghargaan kita terhadap sang guru justru merupakan waktu yang paling tepat untuk berpisah. Karena pada saat itulah, kita dihadapkan pada petualangan baru, untuk belajar hal-hal baru dari sang guru yang baru. Mungkin ini tidak berlebihan. Karena sang guru pun berpesan “kebahagiaan seorang guru, adalah ketika melihat murid-muridnya menjadi jauh lebih baik dari dirinya”. Bagi saya ini nasihat yang luar biasa yang mencerminkan dua hal, kerendahatian seorang guru di satu sisi, dan kebesaran jiwa dan cita-citanya di sisi lain. Subhanallah..semoga Allah memberikan pahala yang tak pernah putus untuk para guru, murabbi, syaikh, dan naqib.
Tak berlebihan pula, jika kita kemudian memberikan penghargaan yang setulus-tulusnya untuk para guru yang telah membimbing kita. Yang tak pernah menepuk dada karena berkembangnya kita sebagai seorang murid, dan tak pernah menampar karena kita gagal. Satu nasihat yang selalu terngiang, tentang bagaimana kita bisa menikmati keberhasilan dan kegagalan, adalah ungkapannya yang menyejukkan, “sukses itu”, katanya, “adalah bisa mendapat PELAJARAN dari setiap PROSES yang kita jalani”. Jujur, itu nasihat terindah bagi setiap orang yang berjuang menapaki jalan kehidupan….terlebih, bagi mereka yang sering terjatuh dan gagal. Yang penting ada PELAJARAN yang diambil, dan tidak terjatuh di lubang yang sama.
Memang begitulah hidup, selalu bergerak, selalu dinamis. Walaupun banyak orang yang bilang, bahwa seringkali sejarah itu berulang. Tak apalah, toh saya percaya dengan dua asumsi ini. Bahwa kita terus berubah dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi, dari tantangan ke tantangan. Tetapi dalam perjalanan itu, kita harus sadar….bahwa kita sedang mengulang sejarah.
Untuk para guru, yang datang dan pergi, memenuhi panggilan peradaban.
Semoga sejarah kembali mempertemukan kita….amiin.


Begitulah kata-kata, sifatnya seperti pisau. Selalu punya dua sisi, kebaikan dan kejahatan. Maka berhati-hatilah atasnya, gunakan ia untuk menumbuhkan dirimu dan orang lain, karena kata-kata yang kesalahan arah, akan berubah menjadi darah. Perhatikanlah bagaimana kata “cicak dan buaya” memaksa jutaan mata, telinga, hati dan pikiran menjadi lelah.
Kata-katalah yang membentuk orang-orang besar yang memperjuangkan kebanaran. Menyulap seorang budak menjadi raja di dunia dan akhirat. Kata-kata juga yang membesarkan para penjahat gombal, yang selalu konsisten memperjuangkan kesalahan. Yang menjatuhkan sang kaisar menjadi seseorang yang kesasar.
Sekarang, marilah kita sedikit “mendaratkan” cara pandang kita. Lihatlah bagaimana kata-kata mengubah persahabatan menjadi suram, dan penuh dengan kebencian. Tapi perhatikan juga bagaimana kata-kata dapat mengikat persahabatan jadi sehidup semati, susah maupun senang, dunia juga akhirat.
Katalah, yang menjerumuskan seseorang pada jerat-jerat cinta, yang tampilannya rupawan tapi isinya mengerikan. Yang penampakannya berbunga-bunga, tapi jiwanya berduri-duri. Kemudian, kata juga yang membimbing seseorang menapaki jalan cinta para pejuang. Yang suci, yang abadi, yang hakiki.
Kemudian jika kata, disulam menjadi senjata, waspadalah. Karena ia bisa jadi sangat menyakitkan, atau bisa juga sangat membangkitkan.
Maka ketika kamu diberi kesempatan, untuk menyampaikan sepatah-duapatah kata, dalam setiap panggung kehidupan, pastikan kata-katamu adalah senjata terbaik. Senjata, untuk menghancurkan tembok-tembok pembatas kreativitas, meruntuhkan hambatan-hambatan belajar dan berkarya, membunuh setiap perasaan dan sikap pesimis, mengubah energi negatif menjadi positif, menghanguskan rasa rendah diri dan keterbelakangan, membongkar energi dan potensi yang tersembunyi.
Kemudian, dengan senjata itu pula, ledakkanlah kapasitas diri mereka, untuk membuat kehidupan jadi lebih baik.
Saya tidak bermaksud mengampanyekan kezhaliman terhadap binatang. Judul di atas hanyalah sebuah analogi, yang ingin menggambarkan betapa mengambil keputusan itu penting, bahwa keberanian itu berguna, kemudian kecepatan itu diperlukan, dan totalitas itu membahagiakan. Semuanya, adalah realitas, yang seringkali terbungkus dalam satu aktivitas: keterdesakan.
Seperti para prajurit Viking, yang membakar habis kapal-kapal mereka dalam sebuah ekpesdisi penaklukan. Tujuannya sederhana: supaya tidak ada lagi pikiran untuk kembali, selain memenangkan pertempuran. Supaya jalan yang terbuat dan pilihan yang terkuat terpolarisasi jadi satu, yaitu optimalisasi kekuatan. Karena untuk tetap hidup, hanya itu pilihan yang tersisa.
Seperti ikan-ikan Tuna, yang harus berlari, bergerak, dan bermanuver sepanjang perjalanan. Karena sang nelayan penangkapnya, menyertakan anak-anak hiu yang cukup bandel, dalam rombongan mereka. Ikan-ikan Tuna itu terus membuka mata, mereka juga terus waspada, karena mereka tahu, sedikit saja mereka tertidur, kemungkinan besar itulah tidur terakhirnya.
Jadi, jika kita ingin berlari lebih kencang, buatlah “anjingnya” marah, dan biarkan ia mengejar kita. Lalu setelah itu pilihlah untuk berlari, kecuali jika kita penasaran ingin tahu bagaimana rasanya digigit anjing, maka diamlah ditempat.
Artinya, hanya ada satu pilihan yang menumbuhkan, yaitu berlari. Dan lakukan saja, berlarilah dengan apa yang kita mampu untuk berlari. Dan percayalah, berlari dalam keterdesakan akan lebih cepat dari biasanya.
Begitu saja, filosofinya sederhana. Jika kita ingin melesat, maka ciptakanlah keterdesakan. Jika kita ingin menjadi hebat maka bangunlah kebutuhan. Karena karya-karya besar seringkali muncul dari keterdesakan. Dan karena keterdesakan adalah ibu dari setiap kreativitas.
Kemudian, agar kemenangan kita sempurna, ikatlah semua keterdesakan itu dengan KEYAKINAN.
Karena mereka yang punya keyakinan, selalu tahu bahwa ada “tangan yang lebih besar” yang akan menolong mereka dari keterdesakannya.
Satu hal lagi,
Buatlah keterdesakan, melesatlah, lalu….
ucapkan selamat tinggal pada logika
Dunia Inspirasi All Rights Reserved. Blogger Template created by Deluxe Templates
Free Blogger Templates andWordpress Theme by Skinpress, download Free Wordpress Templates